h1

Sukses

July 10, 2006

Dua hari yang lalu, Wanto sangat kesal. Sudah dua tahun berturut-turut hasil penjualan timnya selalu melampaui target. Baru bulan lalu dia gagal. Wajar dong. Bulan lalu bisnis sedang sulit. Tapi, bukannya pengertian yang didapatkan. Ternyata atasannya marah-marah.

Masih bagus kalau marah-marahnya di dalam ruangan. Ini marah-marah di ruang terbuka. Di depan semua orang! Di depan semua anak buahnya!. Bahkan di depan karyawan dari divisi lain. Benar-benar bikin malu. Wanto kesal sekali.

Seakan-akan seluruh usahanya selama dua tahun ini sia-sia saja.
Seakan-akan atasannya sudah melupakan prestasi kerjanya selama ini.

Apakah beliau sudah lupa ketika selama ini Wanto sering pulang malam, kerja di hari libur, bahkan tidak pernah mengambil jatah cutinya, karena ingin meningkatkan penjualan? Apakah kesungguhan dan kejujurannya dalam bekerja tidak diperhitungkan lagi? Wanto sakit hati. Rasanya ingin mengundurkan diri saja dari pekerjaannya.

Untung, anak buahnya memberikan dukungan padanya sehingga Wanto tidak merasa terlalu malu. Bukan dia saja yang dimarahi kan? Bahkan, Tia yang baru bekerja tiga bulan segera mengeluarkan seluruh data kliennya yang pernah dihubungi. Tia langsung bekerja. Dia segera menelepon seluruh klien tersebut satu demi satu. Memang beberapa
gagal ditelepon karena mereka sedang bepergian atau sedang rapat. Tapi beberapa klien bisa dihubungi.

Pada waktu semua orang merasa sedih dan tegang karena habis dimarahi, Tia segera membuat janji bertemu pada hari itu juga. Ternyata tiga orang kliennya bersedia diajak bertemu. Hebat! Tia langsung berangkat mengunjungi kliennya.

Semua karyawan lainnya mencoba kembali pada pekerjaan mereka masing-masing. Wanto masih uring-uringan. Hatinya masih sakit karena dimarahi seperti itu. Mengapa atasan tidak mau menerima hasil penjualan yang jelek? Kan baru satu kali? Kalau berbulan-bulan
gagal, bolehlah marah. Ini kan baru satu kali? Hari itu Wanto tidak bisa berpikir.

Keesokan harinya, Tia datang pagi-pagi dengan ceria. Wajahnya penuh senyum. Ternyata kemarin Tia berhasil mendapat order dari dua klien yang ditemuinya. Semua orang kaget. Mereka tidak menjual apa-apa kemarin.

Memang beberapa orang menemui klien, tapi tidak terjadi penjualan. Hasil penjualan Tia memberikan angin segar kepada semua orang. Wanto sendiri merasa lebih segar hari itu. Tia sendiri juga sedang sangat gembira. Dia kan masih terhitung karyawan baru? Baru tiga bulan bekerja. Baru lulus masa percobaan. Tapi hasil penjualan Tia kemarin luar biasa.

Semua orang bertanya mengapa Tia bisa memperoleh dua order dalam sehari. Dengan polos Tia bercerita. Ketika kemarin melihat atasannya marah-marah, ada satu kalimat yang sangat diingat Tia. Atasannya berkata: “Jangan hanya bangga dengan keberhasilan masa lalu! Itu hanya kenangan.

Kebanggaan itu tidak ada gunanya kalau keberhasilan masa lalu tidak dipertahankan. Buatlah diri kalian bangga dengan keberhasilan setiap hari! Dengan keberhasilan setiap minggu! Dengan keberhasilan setiap bulan!”

Insiprasi

Mendengar kata-kata itu, Tia seperti mendapat inspirasi baru. Betul juga ya? Dia sempat terlena dengan keberhasilan penjualan timnya. Selama dua bulan dia bekerja, target selalu tercapai.

Di bulan ketiga ini Tia merasa memang kerjanya lebih santai. Terlena dengan keberhasilan sebelumnya. Lagipula dua bulan berturut-turut bekerja giat, rasanya ingin istirahat juga. Makanya, bulan lalu Tia tidak menghasilkan apa-apa.

Tapi kemarin, dia tergugah oleh kata-kata atasannya. Memang keberhasilan harus dipertahankan. Bagaimana caranya? Mulai dari keberhasilan setiap hari, lalu keberhasilan setiap minggu, lalu keberhasilan setiap bulan.

Kalau dia bisa membuat keberhasilan setiap hari, maka pasti minggu yang dijalani akan menjadi minggu yang berhasil. Kalau setiap minggu adalah minggu yang berhasil, maka sudah pasti bulan itu akan menjadi bulan keberhasilan. Jadi kuncinya adalah mencari keberhasilan setiap hari. Lebih mudah dan lebih ringan untuk dilakukan.

Karena itu Tia kini mencoba mengatur agar setiap hari menjadi hari keberhasilan. Mungkin dia belum tentu bisa menjual setiap hari, tapi setiap hari tetap bisa diisi dengan keberhasilan.

Kemarin terjadi dua penjualan dan satu janji untuk mengirimkan brosur. Hari ini brosur harus segera dikirim sesuai dengan janjinya. Pagi ini Tia juga berhasil menelepon pelanggan yang biasanya sulit ditelepon karena terlalu sibuk. Berarti itu juga sebuah keberhasilan. Menyenangkan juga.

Dia bisa mengisi setiap hari menjadi hari keberhasilan. Wah, hidup ini menjadi menyenangkan bagi Tia. Dia merasa lebih hidup. Bekerja menjadi lebih mengasyikkan.

Wanto malu mendengar cerita Tia yang polos. Kemarin dia sakit hati, malu, dan tersinggung karena dimarahi di depan orang lain, makanya kemarin perkataan atasannya tersebut tidak diperhatikan.

Tapi Tia lain. Ketika dimarahi kemarin, dia mendengarkan. Akibatnya Tia mendapat ilmu baru. Menjadikan setiap hari menjadi hari penuh keberhasilan. Wanto juga ingin begitu. Fill your day with achievement! With Success! Have successful days, weeks, and months!

Sumber: Potensi Diri – Sukses oleh Lisa Nuryanti, Pemerhati Etika dan Kepribadian

3 comments

  1. bagus🙂


  2. jadi rajin post euy. good🙂


  3. hmm..
    bagus bgt tulisanna,,
    memotivasi saya juga🙂



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: