h1

Banjir dan Korupsi

February 23, 2007

Ibu Kota Jakarta, yang dulu pernah termasyhur sebagai Ratu dari Timur (Koningin van het Oosten) karena arsitek dan bangunannya yang mirip Eropa, akan terlihat seperti kolam raksasa bila dilihat dari atas ketika banjir menerjang Jakarta 2 Februari lalu.

Dalam sejarahnya, Jakarta sendiri pernah mengalami kegagalan dalam mengelola lingkungan hidupnya. Hal itulah yang menyebabkan dibentuknya Batavia baru (Niew Batavia) di Weltevreden (sekitar Gambir saat ini). Simon Stevin, arsitek pertama Batavia lama (Oud Batavia) pada tahun 1618, tentu tak pernah berpikir bahwa ratusan tahun kemudian hasil karyanya, pada hari nahas tersebut, lumpuh akibat hujan yang terus-menerus mengguyur Jakarta selama beberapa
jam.

Banjir hebat yang melanda Jakarta selama beberapa hari tersebut merupakan ulangan dari apa yang terjadi pada tahun 1621, 1654, 1918, 1942, 1976, 1996, dan terakhir tahun 2002. Curah hujan yang cukup tinggi, dataran yang hampir setengahnya lebih rendah dari lautan, serta berjejalnya 13 sungai yang mengelilingi Kota Jakarta, membuat
kota ini sulit menghindar dari serbuan bah.

Keadaan dan kondisi tersebut bukannya tidak diketahui oleh para pejabat yang berwenang dalam mengurus Kota Jakarta. Bahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla di istana wakil presiden (8 Februari 2007) mengatakan sebenarnya sudah diketahui cara mengatasi banjir karena konsepnya bukan sesuatu yang baru. Nah, mengapa kita tidak mengambil pelajaran dari musibah tahun 2002 lalu? Bahkan banjir yang baru saja melanda Jakarta justru semakin dahsyat bila dibandingkan dengan banjir tahun-tahun sebelumnya. Hal ini bisa dilihat dari jumlah korban dan kerugian yang ditimbulkannya. Sebanyak 55 korban meninggal dunia, serta tak kurang dari Rp 4,1 triliun kerugian ekonomi sampai triliunan rupiah kerugian materiil ditimbulkan akibat bencana tersebut.

Pertanyaannya, mengapa banjir yang melanda Jakarta makin bertambah dahsyat saja. Berdasarkan data pada Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) DKI Jakarta 2010, luas lahan terbangun di Jakarta Barat pada 1993 mencapai 55,45 persen dan meningkat menjadi 76,93 persen pada 2003.  Kenaikan luas lahan terbangun itu semakin cepat seiring dengan laju
membaiknya ekonomi.

Pada tahun 2006, lebih dari 30 pertokoan, apartemen, dan perkantoran skala besar dibangun di seluruh Jakarta. Pada periode 2007-2008, sekitar 80 pusat belanja, apartemen, dan perkantoran baru akan dibangun di Jakarta. Pembangunan gedung-gedung tersebut, juga bertambahnya permukiman, justru ditengarai menyebabkan hilang dan rusaknya banyak situ yang merupakan daerah resapan air, yang ada di wilayah Jabotabek.

Keadaan ini diperparah oleh menjamurnya pembangunan vila dan perumahan di kawasan Bogor, Puncak, Cianjur, dan sekitarnya yang menyebabkan daerah resapan air di wilayah tersebut semakin berkurang. Kerusakan yang terjadi pada situ ditandai dengan adanya pendangkalan situ, pengurukan situ, dan alih fungsi situ. Sebagian kerusakan itu terjadi karena terdesak oleh kawasan permukiman.  Sekitar 80 persen situ yang tersebar di Jakarta, Bogor, Depok,
Tangerang, dan Bekasi diketahui mengalami kerusakan. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, ada 205 situ di Jabodetabek yang saat ini mengalami kerusakan. Dari jumlah itu, 115 di antaranya dalam kondisi kritis dan sisanya rusak sedang.

Banjir yang melanda Jakarta sebenarnya dapat diminimalkan kerugiannya bila para pejabat berwenang tak seenaknya menorehkan paraf dan tanda tangannya dalam mengeluarkan izin bagi pembangunan gedung dan perumahan. Penyebab utama terjadinya banjir hebat di Jakarta adalah akumulasi praktek-praktek korupsi yang berlangsung selama ini. Lemahnya koordinasi dalam perencanaan tata ruang, praktek korupsi dalam “jual-beli” izin peruntukan lahan, serta
lemahnya law enforcement bagi pelanggar izin karena adanya praktek patgulipat antara pejabat pemberi izin, aparat hukum, dan pemilik modal, merupakan faktor-faktor yang tak bisa diabaikan sebagai biang keladi banjir hebat yang melanda Jakarta.

Begitu mudahnya izin diberikan dapat terlihat dari variabel semakin sedikitnya ruang terbuka hijau sebagai kawasan tangkapan dan resapan air, serta semakin banyaknya kawasan parkir air yang hilang berupa situ, danau, dan rawa-rawa. Dalam master plan DKI 1965-1985, ruang terbuka hijau (RTH) masih 27,6 persen. Kemudian proyeksi versi
pemerintah pada tahun 1985-2005 RUTR DKI masih menyisakan RTH 26,1 persen. Tahun 2000-2010, menurut RUTR, DKI hanya memproyeksikan RTH 13 persen. Target RTH DKI pada tahun 2010 itu adalah 9.544 hektare. Padahal realisasi tahun 2003 hanya 7.390 hektare.

Hal ini memperlihatkan adanya eksploitasi besar-besaran terhadap RTH. Dari data tersebut terlihat bahwa hal ini terjadi pada tahun 1997 dan mengalami peningkatan tajam pada tahun 1999-2001. Contoh alih fungsi yang tampak kasatmata adalah pembangunan apartemen di wilayah selatan Jakarta, serta hutan kota di Cibubur yang dijual untuk dikonversi menjadi pembangunan kawasan komersial.

Nasi memang sudah menjadi bubur. Sekarang, bagaimana mengatasi bencana tersebut agar tak terulang kembali pada tahun-tahun berikutnya. Pemerintah sendiri berencana mengimplementasikan pembenahan dan penanggulangan banjir secara struktural dan menyeluruh dari hulu dan hilir secara serius dan terpadu dalam jangka menengah dengan anggaran yang cukup, terutama di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Langkah ini tentu harus kita dukung sepenuhnya. Hal ini tentu saja dibarengi dengan law enforcement yang harus berjalan tanpa pandang bulu dalam menertibkan dan melaksanakan tata ruang Kota Jakarta sebagaimana mestinya.

Sedangkan tiga rancangan undang-undang, yaitu RUU Pemerintahan Ibu Kota, RUU Bencana Alam, dan RUU Tata Ruang, sebagai landasan hukum untuk mengantisipasi bahaya banjir di masa mendatang, harus segera diselesaikan oleh DPR untuk segera diundangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: