h1

Izinkan Aku Selingkuh Sekali Saja Part 11

March 2, 2007

STM; Sekolah Tekhnik Menengah.
TTM; Teman Tapi Mesra.
Tapi bagi Surya STM adalah; Selingkuh Tapi Mesra.
Lantas, apa hubungannya STM+TTM dengan STM (yang kedua?) Jawabnya; NGGAK ADA.

Mesra; adalah kata yang saat ini menggelayuti hubungan Surya dengan Dira. Salah, bukan mesra, melainkan sangat mesra sekali… banget *pakai banget*

Dengan antusias Dira mau membereskan kamar Surya dan Adit. Bahkan lebih rapih dari yang biasa dikerjakan oleh Anggie. Setiap pagi selalu ada ciuman mesra di HP untuk Surya. Kadangkala Surya dibikin terkejut tatkala pulang kuliah sore Dira sudah ada di kost padahal sebelumnya mereka tidak janjian. Dira melakukan segala yang pantas untuk Surya dan baru kali ini Surya bisa menjaga setan-setan loreng untuk tidak keluar dari sangkarnya di otak kiri (biasanya sih kiri untuk racun dan dosa :p).

‘Jalan’ bareng Dira membuat wawasan Surya bertambah–yang mana seharusnya sebaliknya bukan? Sebelumnya cowok ini tidak pernah tahu bahwa memelihara hewan bisa membuat stress hilang. Teringat kucing-kucing di rumahnya yang selalu membuat mama stress.
“Itu karena kucingnya gak disayang, bang. Coba deh dari awal tuh kucing disayang-sayang, diajarin caranya ngeboker.. makannya disediain piring khusus… bobonya disediain tempat khusus… kucing liarpun bisa jadi jinak! Semua ada tata caranya lho.”

Sikap kritis Dira juga membuat Surya terkontaminasi. Korbannya tak lain dan tak bukan adalah ADIT PITAK!!

Percakapan tak pintar Surya dan Adit;
“Dit, di kepala lo kan banyak pitaknya tuh.”
“Udah tau.”
“Tau gak, pitak itu merusak pemandangan.”
“Kata siapa?”
“Gue.”
“Sejak kapan?”
“…”
“Sejak elo pacaran ama Dira Tusiro kan?”
“Tora Sudiro… namanya Dira.”
“BLAH!”

Semua yang diucapkan, dilakukan dan diisyaratkan oleh Dira membuat Surya tak tahan untuk tidak menghadiahkan berlimpah ciuman setiap kali ketemu (halah :p maunya Surya tuh)… lagipula Surya tak mampu berbuat lebih pada cewek ini. Entah kenapa…. Dan sebuah boneka Ular Sanca (Surya kok tidak romantis dalam hal boneka ya? :p) sebesar paha orang dewasa dihadiahkan Surya.

Sore ini, jarum jam menunjuk pukul 5, Surya dan Dira baru saja pulang dari membeli perlengkapan sekolah Dira; buku tulis baru, penggaris berbahan besi hingga kaos kaki. Seperti biasa mereka mampir dulu di kostan Surya.

-CETAR!!-

“Wah! Apa tuh, bang?”

“Apa ya?”

Bego juga mereka. Jelas-jelas itu petir kok masih saling bertanya.

-CETAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRR!!-
(artinya; wooiihhh guah nih petir! Cepat pulang sebelum guah sambar elo berdua, tauuu!)

Hujan pun membasahi bumi. Turun dari angkot, Surya dan Dira terseok-seok berlari ke kost.

-BYUUURRR-

“KLEP! Tolong…” saking semangatnya berlari, Surya terpeleset genangan air.

“Aduuuh bang Surya ini. Hayu sini saya bantuin.”

Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Berhujan-hujan dahulu…. bersin-bersin kemudian. Di kost Surya, Dira mulai menunjukkan tanda-tanda sakit ingatan… SAKIT FLU!

“HUATSIH!!”

“Tuuuuh kan. Gue bilang juga apa. Mbokya tuh baju diganti dulu.” Surya membuka lemari, mengeluarkan kaos dan celana pendek. “Nih dipake dulu… hayo sana ganti… atau perlu gue bantuin?”

“Igh bang Surya…”

Kaos dan celana pendek Surya memang kebesaran untuk Dira, tetapi hanya dua item itulah satu-satunya pilihan Dira. Daripada ia harus mengenakan sarung milik Adit yang mereknya ‘Gajar Boker’? Tentu tidak. Dira menemani Surya membereskan beberapa file di komputer. Banyak folder milik Adit yang ia hapus. Shift+Del! Permanen.

“Kok foldernya bang Adit dihapus sih, bang?”

“Biarin. Tuh folder isinya merusak moral,” sahut Surya. Benar-benar tak menyadari bahwa ia sendiri (dulunya) sangat mencintai Adit (foldernya) :p

Dira memeluk Surya hangat. Iya! Habis hujan-hujanan dan kedinginan… berpelukan ala Telletubies merupakan kegiatan yang tepat. Tapi bagi Adit, kalau hujan-hujanan, enaknya mendekam di kost ceweknya itu Smile Padahal setiap hari sudah ketemu… apa tidak jenuh tuh Adit? Coba kita tanyakan pada rumput yang bergoyang.
*Helluw bang Ebiet G. Ade!*
Untuk moment ini, bukan lagu bang Ebiet yang menjadi soundtracknya, namun lagu dangdut berjudul Memori Daun Pisang… :p

“Errrm, bang,” bisik Dira lembut.

“Hem? Pengen dicium lagi?”

“Yeee… salah satunya sih iya.”

Surya membalikkan tubuh, “Ya sini elo…”

“Tapiiiii tunggu dulu!” Dira membekap bibir Surya sampai yang bersangkutan sesak nafas. Wah, bisa almarhum di tangan selingkuhan nih gue. Bisik batin Surya. Pipi Surya dielus lembut. “Bang, dua minggu lagi kita genap sebulan jadian lho… dirayain yuk?”

-TEETOOOOOT!!-

Surya nyaris melupakan hal yang satu ini! SISnya akan dicabut 2 minggu lagi. Payah. Apakah karena saking mesranya hubungan perselingkuhan bersama Dira sehingga Surya terlena dan melupakan jangka waktu SIS? SIS yang tidak diijinkan mendapatkan perpanjangan waktu!! Mampus!

“Ngg…” Surya bingung harus menjawab apa.

“Nanti kita rayain di rumah aja ya? Sama mama dan abang… heuheuehuw.”

“…”

***

Malamnya, setelah Dira pulang ke rumahnya sendiri (bukan rumahnya tetangga), Surya dan Adit terlibat dalam obrolan yang maha serius sehingga nyamuk dan lalatpun tidak diijinkan nimbrung. Bahkan cicak-cicak di dindingpun ikut terdiam…

“…ya udah, elo putusin aja si Dira,” nasihat Adit seraya menyambar rokok di meja. Kepulan asap mengudara tatkala ia menyulut sebatang… rokok. Bukan pisang.

“…” Surya tidak menanggapi. Ia diserang dillema. 7 tahun vs 2 minggu.

“Kok diem? Gue curiga ma elo.”

“Bingung, Dit.”

“Bingung kenapa? LAH!”

“Gue udah mulai sayang sama Dira. Elo kan tau gimana dia udah merubah hidup gue sedikit demi sedikit. Gue udah bisa nahan diri… tau gak, gue ngerasa lebih dewasa dari sebelum-sebelumnya.”

“Cilako! Payah lo! Selingkuhan ya selingkuhan! Jangan libatkan perasaan. Gue pernah nih nonton SMS alias Senin Malam Show yang dijoki sama Indro Warkop itu. Temanya soal selingkuhan gitu. Salah satu nasihat bang Indro… jangan pernah melibatkan perasaan dalam urusan perselingkuhan! Bahaya bo. Mending segera menyingkir sejauhnya.”

“Tapi Dit. Dira sayang banget sama gue. Dia cinta.”

“Jadi Anggie enggak???”

“…”

ANGGIE CINTA MATI MA GUE! MAKANYA DIA NGELUARIN SURAT IJIN SELINGKUH BIAR GUE BAHAGIA!!

“Saran gue, elo harus benahin hati. Gitu aja.”

“Uhm. Caranya?”

“Mulai jauhi Dira.”

SULIT! BAGI DIRA GUE ADALAH SEGALANYA YANG PERTAMA DAN BAGI GUE DIRA ITU… SELINGKUHAN YANG BIKIN GUE NGERASA LEBIH DARI SEKEDAR MAHASISWA GEBLEK SEJAKARTA RAYA.

***

Wah… kasihan sekali si Surya ya, pembaca?
P

-bersambung-

4 comments

  1. selingkuh ga boleh pake perasaan….hihihi…setuju banget


  2. Selingkuh: Abnormal yang dinikmati

    A. Pengertian

    Asya (2000) mendefinisikan perselingkuhan (Selingkuh) diartikan sebagai perbuatan seorang suami (istri) dalam bentuk menjalin hubungan dengan seseorang di luar ikatan perkawinan yang kalau diketahui pasangan syah akan dinyatakan sebagai perbuatan menyakiti, mengkhianati, melanggar kesepakatan, di luar komitmen. Dengan kata lain selingkuh terkandung makna ketidakjujuran, ketidakpercayaan, ketidaksaling menghargai, dan kepengecutan dengan maksud menikmati hubungan dengan orang lain sehingga terpenuhi kebutuhan afeksi-seksualitas (meskipun tidak harus terjadi hubungan sebadan).

    Kita tentu sudah mengenal berbagai akibat selingkuh. Bukan saja terancamnya rumah tangga, tetapi juga terkadang membawa dampak ikutan yang cukup berat, seperti hancurnya harapan anak-anak, rasa malu yang ditanggung keluarga besar, rusaknya karir. Lebih dari itu semua adalah rusaknya tatanan sosial pada masa mendatang.

    B. Mengapa Selingkuh?

    Banyak sebab mengapa suami (istri) melakukan selingkuh.

    1. Faktor Utama

    a. Predisposisi kepribadian. Ada beberapa individu yang cenderung memiliki gairah seks yang besar (seksmania) ataupun yang mengalami kebosanan seksual. Miskinnya afeksi seksual pasangan dapat menjadi pemicu kuat untuk terjadinya pengembaraan seksual dan juga afeksi dari orang lain. Modusnya mulai dari jajan seks, memelihara simpanan WIL (PIL), affair tanpa seks. Yang kesemuanya berkategori perilaku abnormal dan abnorma.

    b. Terjadinya desakralisasi lembaga perkawinan. Rumah tangga (RT) yang tadinya dianggap sebagai lembaga ideal untuk menyelamatkan dua sejoli dari dosa. Muatan kehalalan menurut agama menjadi rapuh dan keluarga dipandang sebagai rutinitas bahkan beban kehidupan. Orang ingin melepaskan dari kegagalan menciptakan RT yang ideal. Keabsahan agama dan kehalalan agama dipandang sebagai sebuah formalitas saja tanpa ruh, akhirnya ia meruntuhkan (meralat) kesucian agama.

    c. Terjadinya deidealisasi lembaga RT. Semua orang yang menikah biasanya diawali dengan angan-angan, cita-cita yang luhur, punya keturunan yang baik, materi yang cukup, serta masa depan yang bahagia. Idealisasi ini runtuh setelah mengalami tahap kemandegan spiritualitas memerankan RT. Orang menjadi tidak peduli, karena idealismenya tidak akan pernah tercapai. Orang semacam ini tidak lagi memiliki gambaran ideal lagi tentang RT.

    d. Terjadinya dekadensi moral. RT adalah lembaga moral terbesar dalam masyarakat. Di RT lah setiap individu memperoleh pendidikan mendasar. Suami (istri) memerankan tugas mulianya secara moral hampir 50% berada di RT. Dari cara mendidik anak-anaknya, komunikasi, tata krama, life survive semuanya digambarkan begitu gamblang di RT. Ketika seseorang tidak lagi menyadari fungsi RT sebagai lembaga moral terbesar, maka ia benar-benar jatuh 50% dari hakekat moralnya. Wajar kalau semua agama menghukum berat pelaku selingkuh, sebab kalau dibiarkan sama dengan 50% keruntuhan moral masyarakat. Seperti kita mengenal dalam ajaran Islam, selingkuh berarti mati, dan sekaligus cerai. Demikian pula dalam Kristiani, perceraian menjadi mungkin karena salah satu pihak telah berzina. Dalam Hindu pun selingkuh memperoleh hukuman yang berat. Bahkan, semua budaya primitif sekalipun menganggap selingkuh sebagai sebuah aib dari 10 aib terbesar.

    2. Faktor Pendukung

    a. Faktor fasilitasi sosial. Lemahnya institusi masyarakat dalam masalah moral sosial dan hukum menjadi lahan subur selingkuh. RT seolah memperoleh ancaman serius dari lingkungan. RT yang sejak awal sudah bagus semacam digerus perlahan-lahan oleh lingkungan yang memfasilitasi kebejatan moral atau memperbolehkan (permisivitas masyarakat). Bagaimana tidak aneh, di satu sisi di RT dituntut kesucian, kesetiaan pada saat yang sama diijinkannya melakukan selingkuh di lokalisasi berizin. Hal yang sama terjadi dalam bingkai kehidupan yang lainnya. Ketika kampanye anti merokok sedang gencar, tetapi iklan rokok secara terbuka menyatakan bahayanya. Setiap hari kita disuguhi agar miras diberantas, pada saat yang sama ia berada di tempat-tempat “berizin”. Dalam teori psikologi, kenyataan ini akan menciptakan dissonance cognitive-kekacauan berfikir. Dalam istilah umum orang harus terbiasa bermuka dua, bersikap yes dan no pada kasus yang sama, untuk pro dan kontra secara bersamaan dalam peristiwa yang sama. Hal inipun menular dalam RT, seperti mencintai sekaligus selingkuh.

    b. Ketersediaan group secara sosial. Nampaknya tidak semua kaum selingkuh ini mendapatkan dampratan masyarakat, tetapi juga memperoleh penerimaan dari komunitas tertentu-meskipun terbatas. Bisa kita bayangkan bahwa orang dengan bangga mengumbar pengalaman selingkuhnya sebagai sebuah prestasi keperkasaan, atau keseksian. Ada saja orang yang bangga kalau ia telah berhasil menggaet “daun muda”, atau bahkan merasakan “goyang randa”. Sebagaimana ada pula yang bangga kalau ia berhasil menaklukan bos, atau menjerat suami orang walau hanya sesingkat “short time”. Komunitas (Purwanto, 1999) ini mudah terbentuk di lingkungan kerja, dimana interaksi pria-wanita sering terjadi. “Tresno jalaran soko kulino” menjadi alasan paling banyak (33%) terjadinya selingkuh. Sedangkan di masyarakat komunitas yang kontra selingkuh semakin menipis kekuatan daya tangkalnya. Hal ini karena selingkuh dianggap sebagai fenomena yang terlalu sering terjadi. (Penelitian di Jakarta, 1997, 2 dari 3 laki-laki pernah berselingkuh).

    c. Lemahnya sangsi sosial dan hukum. Secara umum masyarakat kita sangat mudah memaafkan kesalahan. Walaupun kesalahan itu sangat fatal menurut kacamata agama. Sedikit sekali kasus selingkuh diproses menjadi kasus hukum.

    Di Amerika Serikat kasus selingkuh sudah melanda 60% keluarga, bahkan jutaan bayi lahir tanpa lembaga perkawinan, tetapi dengan bangga mereka mengakuinya, semisal aktris Madonna.

    Prediksi penulis di Indonesia kasus selingkuh terbongkar dan yang dibawa ke pengadilan dan berakhir dengan perceraian hanya 5%, 8% masuk penjara. padahal kasus yang tidak terbongkar jauh lebih besar. Sisanya diselesaikan diselesaikan secara kekeluargaan, tahu-sama tahu, dilupakan, mengambang, dihukum secara sosial, di keluarga hanya pisah ranjang. Kenyataan ini semakin memperbesar komunitas penerimaan terhadap kasus selingkuh.

    Selain itu, hukum yang mengatur sangat fleksibel, lentur tergantung “kebijakan hakim”. Dan dimana selingkuh itu dilakukan.

    d. Media massa. Tentu kita sudah maklum bahwa lagu-lagu telenovela, sinetron, film, dan juga kelakuan langsung para sineas film menunjukkan ide-ide perselingkuhan sebagai fenomena wajar. Dengan suka cita rangkaian cerita itu dinikmati sebagai sebuah entertainment. Mengapa hal itu terjadi? Karena orang lebih men”tuhan”kan cinta tetapi tidak menghargai hukum Tuhan tentang cinta itu sendiri. Para artis/aktor yang selingkuh, bercerai secara terus menerus dipublikasikan dengan bumbu-bumbu entertainment, seolah-olah tanpa dosa dan tetap menjadi pujaan.

    e. Era hedonisme. Kita telah lama mendengar bahwa sekarang ini memasuki era kebebasan dan materialisme. Sangking sudah bingungnya menghadapi kasus selingkuh di satu sisi, tetapi kebutuhan materi disis lain, atau kebutuhan gengsi (kehormatan) di sisi lainnya, ada sebagian orang yang berprinsip: di rumah adalah suami (istri)ku, di luar terserah, yang penting tidak mengganggu ekonomi RT, dan tidak saya pergoki.

    3. Faktor Pemicu lain

    1. Seringnya memelihara pandangan, pendengaran dan pikiran tentang hasrat seksual, semisal berbicara hal-hal yang yang porno sesama rekan atau teman dekat. Biasanya selingkuh diawali oleh hasrat seksual yang atraktif, bahkan bersifat sesaat. Semisal melihat gadis-gadis cantik (perjaka ganteng) yang setiap hari ada di pinggir jalan, di sekolah, di toko, mall atau dimanapun. Hasrat ini semakin menguat ketika pasangan di rumah kurang kreatif dalam teknik seksologi. Proses yang ditahapi: (1) mengawali dengan coba-coba, (2) lalu terjebak dan (3) sulit menghentikan (4) konflik (5) resiko berkelanjutan.
    2. Media pornografi dan pornoaksi yang mudah diperoleh, bahkan disediakan oleh media televisi secara terselubung. Semisal acara musik dengan latar penari yang seronok yang seksi, bagi para penonton berhasrat seks cukup tinggi, atau mudah terangsang, dapat menjadi ingatan sesaat yang muncul untuk mencari penyaluran lain selain pasangan.
    3. Kesepakatan canggih. Pada beberapa kasus selingkuh, kedua belah pihak memperoleh manfaat sesaat. Mereka menyadari resikonya dan karenanya sepakat untuk hanya sekedar berenjoy ria secara seksual dan mengaturnya secara canggih sehingga tidak sampai membuat bubar keluarga masing-masing. Kalau ketahuan akan sama-sama menolaknya dan sama-sama mengakhirinya. Mereka menjalaninya sebatas aman saja.
    4. Kecanggihan teknologi anti hamil. Kecemasan akan kehamilan akibat sek bebas semakin kecil, karena hampir 95% mereka yang selingkuh telah memahami fungsi kontrasepsi atau bagaimana caranya seks tanpa kehamilan. Sebagaimana juga terjadi di kalangan remaja putri yang terlibat pada perselingkuhan dengan “om senang”. Dalam hal ini penelitian Kainuna (2001) mengindikasikan bahwa teknologi kehamilan memberikan 70% kontribusi pada keberanian seseorang untuk melakukan seks bebas dengan rasa aman dari kehamilan. Kehamilan terjadi pada seks bebas “remaja cingur”.


  3. sharing selingkuh nih! kunjungi blog gue ya! http://selingkuhsuci.blogspot.com


  4. sharing selingkuh nih! kunjungi blog gue ya! http://www.selingkuhsuci.blogspot.com



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: