Archive for the ‘Renungan’ Category

h1

Fenomena Jatuh Cinta

October 28, 2008

Fenomena Jatuh Cinta
Proses Kematangan Jiwa yang Lengkap

Jatuh Cinta, berjuta rasanya, dibelai, dipegang, amboi rasanya..

Jatuh Cinta berjuta indahnya, tertawa, menangis karena jatuh cinta.!
Oh asyiknya…!

Suara Eddy Silitonga sangat enak terdengar kala mendendangkan syair lagu tadi. Aneh. Kenapa menggunakan istilah ‘jatuh’ cinta? Kenapa tidak memakai istilah ‘mendapat’ cinta? Apakah makna kata ‘jatuh’ mengartikan bahwa cinta itu tiba-tiba jatuh di mana saja, tanpa kenal waktu, usia, dan latar belakang seseorang? Atau apakah ‘jatuh’ berarti orang yang kejatuhan cinta ini tidak bisa mengelak atau menolak?

Semua orang berhak ‘kejatuhan’ cinta, Tetapi, tiap orang akan mendapat dan menerima cinta dengan berlainan kualitasnya. Cinta, seperti apa yang kita serahkan pada orang yang kita cintai? Juga,
cinta yang berkualitas, seperti apa yang kita terima dari orang yang mengaku mencitai kita?

Jatuh cinta, apakah ini murni suatu proses yang mengacu pada perasaan saja? Atau, ada logika yang harus ditajamkan? Banyak dari kita menganggap, jatuh cinta merupakan kejadian di mana sese-orang tidak bisa berpikir lagi secara logis. Maka muncul guyonan “Kalau cinta sudah melekat, kotoran kambing pun serasa cokelat”

Masih soal kualitas, benarkah cinta pada pandangan pertama hanya ketertarikan fisik belaka? Apakah benar kita bisa mencintai seseorang pada pandangan pertama?

Kita menyukai seseorang kemudian ingin bertemu lagi dan bertemu lagi. Akhirnya perasaan kangen yang begitu dahsyat, membawa kita pada kecanduan ingin selalu bersama. Setelah itu, berlanjut dengan
saling mengenal antarjiwa, apa saja kesukaaannya dan apa saja yang bisa menarik perhatiaannya. Jadi, memang tidak mungkin kita mencintai seseorang begitu melihatnya. Apalagi, tidak ketahuan asal-
usulnya, tahu-tahu cinta dengan begitu saja. Cinta tidak menyerang tiba- tiba, tetapi efek ketertarikan membuat cinta tumbuh.

Dengan kenyataan ini, bisa disimpulkan bahwa jatuh cinta merupakan proses emosi yang kompleks. Agar cinta bisa tumbuh dan berkembang, maka cinta membutuhkan waktu berproses. Benar kata-kata dalam lagu
Eddy Silitonga, yang menjelaskan jatuh cinta itu suatu proses, di mana kita merasa senang disentuh, dibelai, dan bisa tertawa juga menangis bersama.

Fenomena jatuh cinta, merupakan proses kematangan jiwa yang lengkap. Dalam berproses, tidaklah cukup hanya merasa senang dengan segala perasaaan tertarik ke arah kebutuhan biologis belaka. Jiwa kita
menjadi matang dalam berproses jika kita memberi waktu, untuk mengenal lebih dalam, maka akal sehat harus tetap digunakan.

Ketika kita dalam kondisi jatuh cinta, sebaiknya kita respek dengan rambu-rambu yang ada. Jika menyepelekannya, itu bukan pertanda kita jatuh cinta kepada seseorang, tetapi sinyal kebodohan dalam suatu hubungan yang berawal dari ketertarikan. Tertarik kepada seseorang, banyak alasanya, tapi yang pertama terlihat adalah hal yang kasat mata, maka logika akan memberi sinyal untuk akal sehat kita tetap
jernih.

Banyak hal terjadi saat mabuk cinta, kita mengidealkan kekasih kita, bukan melihatnya secara realistis, dan ini bom waktu untuk relasi selanjutnya. Jatuh cinta memang mengasyikan, memabukkan, tetapi
harus bisa menerapkan logika dalam menjalani proses yang sedang terjadi, agar tidak menjadi kacau pada tahap selanjutnya yaitu menuju niat membangun hidup bersama dalam pernikahan.

Proses jatuh cinta itu menjadi indah dan bermakna untuk kesejahteraan hidup selanjutnya, jika kita mampu menyeimbangkan logika dan perasaaan, maka menghasilkan bukan saja cinta, tetapi cinta kasih.

Kasih, merupakan pengikat yang sempurna dalam relasi cinta, bukan saja antarpasangan, tetapi juga antarindividu. Cinta kasih bisa digambarkan melalui, apa yang dilakukan dan apa yang tidak dilakukan
tanpa paksaan, tanpa tekanan dari pihak lain. Cinta kasih bukan ego yang menuntut, tetapi suatu penyerahan kasih sayang dengan kerelaan hati.

Cinta kasih membantu seseorang untuk menahan segala tekanan yang dialami dalam pernikahan. Cinta kasih mampu membuat seseorang menaruh kepercayaan kepada yang lain.

Cinta kasih mampu memaklumi seseorang pada saat orang yang kita kasihi sedang lemah dan berbuat salah. Orang yang mencintai dengan segenap batinnya akan senantiasa memberi kebebasan untuk orang yang dicintainya, memilih dan memiliki kebahagiaan dengan caranya sendiri.

Banyak orang terjebak ingin menguasai kekasih, membatasi pergaulannya, mengatur seleranya berbusana, atau malah berkebalikan yakni menjadi pihak yang selalu mengalah, berbuat apa saja yang diharuskan sang kekasih. Kondisi seperti ini, memberi makna bahwa kita belum siap memberi dan menerima kedatangan ‘cinta’ di mana masing-masing pihak masih bersikeras menggunakan cara sendiri.

Cinta Tidak Buta

Kenyataan di lapangan mengungkapkan bahwa cinta itu tidak buta, tetapi nafsulah yang buta. Di sinilah terlihat beda antara cinta dan nafsu. Banyak pernikahan terjadi didasari nafsu ketertarikan seketika, tetapi diberi label ‘cinta’. Maka, lahirlah kalimat, cinta pada pandangan pertama!

Waktu kita jatuh cinta, segala hal yang negatif disembunyikan. Sejalan dengan waktu, hal yang tersembunyi ini menjadi masalah di kemudian hari, ketika tak ada tempat lagi untuk menyembunyikannya.

Suatu ketika kita sadar bahwa karakter pasangan kita banyak kekurangan sehingga membuat ketidakcocokan hidup bersama, lalu masalah lain pun menumpuk. Apakah persoalan relasi antarpasangan itu tadi bisa diatasi dengan cinta belaka? Faktanya, cinta tidaklah seajaib itu. Maka, cinta saja tidak cukup. Harus menjadi cinta kasih untuk lebih kuat.

Cinta tidak melenyapkan semua masalah. Banyak orang berpikir, jika kita mempunyai cinta, maka segala masalah akan teratasi. Seakan-akan cinta itu obat bagi segala penyakit relasi. Cinta hanya bisa membuat
sepasang kekasih lebih berani dalam bertindak dan tahan dalam berjuang menghadapi masalah yang ada.

Sangat berbahaya bila kita jatuh cinta berdasarkan menyukai kekasih hanya sebatas fisik, walaupun kita sadar, banyak hal dari dirinya yang kita tidak suka, tidak cocok. Jika kita tergila-gila kepada
seseorang hanya karena senang ketika kontak fisik, maka itu bukan jatuh cinta, tetapi hanya nafsu belaka.

Cinta yang tidak buta, sadar akan kekurangan kekasihnya tetapi karena ada cinta di hatinya maka dia bisa mengatasinya dengan berusaha menerima dan memberi toleransi yang besar dengan harapan sang kekasih bisa berubah. Berdasarkan perasaan cinta yang besar, maka keinginan-keinginan tersebut, haruslah didasari dengan maksud baik.

Cinta yang tidak buta, tidak akan memberitahu kekurangan kekasih dengan geram, marah membenci, cinta tidak merasa jijik, cinta tidak mencaci, dan mengungkit-ungkit masa lalu. Tetapi, dengan cinta kita
mengingatkan, memberi nasihat, memberi ruang agar sang kekasih menyadari keburukannya, dan mau berubah karena kesadarannya sendiri.

Nafsu bisa membutakan! Banyak orang yang menjalin hubungan dengan penuh nafsu, sangat tergila-gila dengan kontak fisik, kecanduan seks pranikah, maka saat menikahinya, menerima saja kekurangan
kekasihnya, tanpa keinginan memperbaiki. Hubungan yang didasari nafsu akan cepat jenuh, ketika kekurangan sang kekasih, semakin hari semakin terlihat dan kita lebih kritis untuk menuntut perubahan.
Ketika perubahan tidak juga didapat kita mengkhayal akan datang orang lain yang menggantikannya dan berusaha meninggalkannya. itulah akhir dari pernikahan yang berlandaskan nafsu bukan cinta kasih.

Pernikahan memungkinkan bagi banyak pasangan untuk saling melayani dan saling mengasihi dengan demikian pernikahan makin dikekalkan oleh cinta kasih, sama-sama berusaha menjadi pemberi kebahagiaan pada masing-masing pasangannya.

Sama-sama menghargai kekurangan yang ada, dan sama-sama memberi waktu untuk memperba- iki diri, tidak gengsi untuk meminta maaf jika berbuat salah.

Sumber: Fenomena Jatuh Cinta, Proses Kematangan Jiwa yang Lengkap oleh Lianny Hendranata.

Advertisements
h1

Banjir dan Korupsi

February 23, 2007

Ibu Kota Jakarta, yang dulu pernah termasyhur sebagai Ratu dari Timur (Koningin van het Oosten) karena arsitek dan bangunannya yang mirip Eropa, akan terlihat seperti kolam raksasa bila dilihat dari atas ketika banjir menerjang Jakarta 2 Februari lalu.

Dalam sejarahnya, Jakarta sendiri pernah mengalami kegagalan dalam mengelola lingkungan hidupnya. Hal itulah yang menyebabkan dibentuknya Batavia baru (Niew Batavia) di Weltevreden (sekitar Gambir saat ini). Simon Stevin, arsitek pertama Batavia lama (Oud Batavia) pada tahun 1618, tentu tak pernah berpikir bahwa ratusan tahun kemudian hasil karyanya, pada hari nahas tersebut, lumpuh akibat hujan yang terus-menerus mengguyur Jakarta selama beberapa
jam.

Banjir hebat yang melanda Jakarta selama beberapa hari tersebut merupakan ulangan dari apa yang terjadi pada tahun 1621, 1654, 1918, 1942, 1976, 1996, dan terakhir tahun 2002. Curah hujan yang cukup tinggi, dataran yang hampir setengahnya lebih rendah dari lautan, serta berjejalnya 13 sungai yang mengelilingi Kota Jakarta, membuat
kota ini sulit menghindar dari serbuan bah.

Keadaan dan kondisi tersebut bukannya tidak diketahui oleh para pejabat yang berwenang dalam mengurus Kota Jakarta. Bahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla di istana wakil presiden (8 Februari 2007) mengatakan sebenarnya sudah diketahui cara mengatasi banjir karena konsepnya bukan sesuatu yang baru. Nah, mengapa kita tidak mengambil pelajaran dari musibah tahun 2002 lalu? Bahkan banjir yang baru saja melanda Jakarta justru semakin dahsyat bila dibandingkan dengan banjir tahun-tahun sebelumnya. Hal ini bisa dilihat dari jumlah korban dan kerugian yang ditimbulkannya. Sebanyak 55 korban meninggal dunia, serta tak kurang dari Rp 4,1 triliun kerugian ekonomi sampai triliunan rupiah kerugian materiil ditimbulkan akibat bencana tersebut.

Pertanyaannya, mengapa banjir yang melanda Jakarta makin bertambah dahsyat saja. Berdasarkan data pada Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) DKI Jakarta 2010, luas lahan terbangun di Jakarta Barat pada 1993 mencapai 55,45 persen dan meningkat menjadi 76,93 persen pada 2003.  Kenaikan luas lahan terbangun itu semakin cepat seiring dengan laju
membaiknya ekonomi.

Pada tahun 2006, lebih dari 30 pertokoan, apartemen, dan perkantoran skala besar dibangun di seluruh Jakarta. Pada periode 2007-2008, sekitar 80 pusat belanja, apartemen, dan perkantoran baru akan dibangun di Jakarta. Pembangunan gedung-gedung tersebut, juga bertambahnya permukiman, justru ditengarai menyebabkan hilang dan rusaknya banyak situ yang merupakan daerah resapan air, yang ada di wilayah Jabotabek.

Keadaan ini diperparah oleh menjamurnya pembangunan vila dan perumahan di kawasan Bogor, Puncak, Cianjur, dan sekitarnya yang menyebabkan daerah resapan air di wilayah tersebut semakin berkurang. Kerusakan yang terjadi pada situ ditandai dengan adanya pendangkalan situ, pengurukan situ, dan alih fungsi situ. Sebagian kerusakan itu terjadi karena terdesak oleh kawasan permukiman.  Sekitar 80 persen situ yang tersebar di Jakarta, Bogor, Depok,
Tangerang, dan Bekasi diketahui mengalami kerusakan. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, ada 205 situ di Jabodetabek yang saat ini mengalami kerusakan. Dari jumlah itu, 115 di antaranya dalam kondisi kritis dan sisanya rusak sedang.

Banjir yang melanda Jakarta sebenarnya dapat diminimalkan kerugiannya bila para pejabat berwenang tak seenaknya menorehkan paraf dan tanda tangannya dalam mengeluarkan izin bagi pembangunan gedung dan perumahan. Penyebab utama terjadinya banjir hebat di Jakarta adalah akumulasi praktek-praktek korupsi yang berlangsung selama ini. Lemahnya koordinasi dalam perencanaan tata ruang, praktek korupsi dalam “jual-beli” izin peruntukan lahan, serta
lemahnya law enforcement bagi pelanggar izin karena adanya praktek patgulipat antara pejabat pemberi izin, aparat hukum, dan pemilik modal, merupakan faktor-faktor yang tak bisa diabaikan sebagai biang keladi banjir hebat yang melanda Jakarta.

Begitu mudahnya izin diberikan dapat terlihat dari variabel semakin sedikitnya ruang terbuka hijau sebagai kawasan tangkapan dan resapan air, serta semakin banyaknya kawasan parkir air yang hilang berupa situ, danau, dan rawa-rawa. Dalam master plan DKI 1965-1985, ruang terbuka hijau (RTH) masih 27,6 persen. Kemudian proyeksi versi
pemerintah pada tahun 1985-2005 RUTR DKI masih menyisakan RTH 26,1 persen. Tahun 2000-2010, menurut RUTR, DKI hanya memproyeksikan RTH 13 persen. Target RTH DKI pada tahun 2010 itu adalah 9.544 hektare. Padahal realisasi tahun 2003 hanya 7.390 hektare.

Hal ini memperlihatkan adanya eksploitasi besar-besaran terhadap RTH. Dari data tersebut terlihat bahwa hal ini terjadi pada tahun 1997 dan mengalami peningkatan tajam pada tahun 1999-2001. Contoh alih fungsi yang tampak kasatmata adalah pembangunan apartemen di wilayah selatan Jakarta, serta hutan kota di Cibubur yang dijual untuk dikonversi menjadi pembangunan kawasan komersial.

Nasi memang sudah menjadi bubur. Sekarang, bagaimana mengatasi bencana tersebut agar tak terulang kembali pada tahun-tahun berikutnya. Pemerintah sendiri berencana mengimplementasikan pembenahan dan penanggulangan banjir secara struktural dan menyeluruh dari hulu dan hilir secara serius dan terpadu dalam jangka menengah dengan anggaran yang cukup, terutama di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Langkah ini tentu harus kita dukung sepenuhnya. Hal ini tentu saja dibarengi dengan law enforcement yang harus berjalan tanpa pandang bulu dalam menertibkan dan melaksanakan tata ruang Kota Jakarta sebagaimana mestinya.

Sedangkan tiga rancangan undang-undang, yaitu RUU Pemerintahan Ibu Kota, RUU Bencana Alam, dan RUU Tata Ruang, sebagai landasan hukum untuk mengantisipasi bahaya banjir di masa mendatang, harus segera diselesaikan oleh DPR untuk segera diundangkan.

h1

Gosip

February 23, 2007

Rima dan teman-temannya sering bergosip ria. Apalagi kalau gosipnya seru. Rima tidak merasa ada masalah. Segala sesuatu digosipkan. Dari masalah kebiasaan makan, hingga masalah selingkuh. Dari masalah penyakit hingga masalah baju.

Mereka sering membicarakan berbagai gosip. Siapa yang bajunya baru, siapa yang sepatunya kotor, siapa yang terlambat ke kantor, siapa yang terlambat dijemput kemarin, siapa yang sedang jatuh cinta, siapa yang menerima bonus, dan seribu gosip lainnya.

Sampai tiga hari yang lalu, kebetulan Rima membaca sebuah kisah nyata di sebuah tabloid ketika sedang makan siang dan bergosip di warung dekat kantor. Di sana dikisahkan seorang wanita yang bekerja sebagai TKI di negara tetangga. Sebut saja namanya A. Wanita tersebut bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik. Dia bekerja di bagian produksi bersama banyak buruh lainnya.

Suatu hari, ternyata salah seorang buruh lain memusuhinya, entah karena merasa iri hati atau kurang suka dengannya. A sendiri tidak mengerti sebab musabab terjadinya permusuhan tersebut, karena dia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun. Tak berapa lama kemudian, teman yang memusuhinya tersebut mulai menyebarkan gosip yang tidak benar. Katanya, A gila. Wah, benar-benar tidak tanggung-tanggung, berani mengatakan orang lain gila.

Perlahan-lahan gosip itu tersebar di antara para buruh lainnya. A juga mendengar gosip tersebut, tapi dia tidak memedulikannya. Di luar dugaan, gosip tersebut terus berkembang. Suatu hari A dipanggil oleh yayasan yang dulu mengirimnya ke luar negeri dan menyuruhnya berhenti bekerja. Bahkan, A diminta mengikuti test kesehatan untuk
memastikan bahwa dia tidak gila.

Dipulangkan

Ternyata gosip tersebut sudah sampai ke telinga para pengurus yayasan. Akhirnya, meskipun hasil test kesehatannya baik, A tetap dikirim pulang karena pihak pengurus yayasan masih merasa kuatir mengenai kondisi mentalnya. Benar-benar gosip yang menghancurkan. Kasihan sekali.

Membaca kisah itu, Rima menjadi ngeri. Memang gosip tertentu ada benarnya. Tapi tidak semua gosip itu benar. Seringkali gosip diceritakan ulang dengan ditambah bumbu atau dibesar-besarkan agar terdengar seru dan menarik. Semakin lama gosip menjadi semakin besar, seru dan hebat. Semua orang menambahkan sedikit bumbu.

Suatu hari Kiki, rekan sekantornya, pernah digosipkan sakit kaki parah. Entah penyakit apa, pokoknya parah, gawat lagi. Kalau sedang kumat, sakit sekali dan bisa pingsan. Semua karyawan membicarakan penyakit kaki yang diderita Kiki.

Ternyata ketika Rima menanyakan masalah penyakit kaki tersebut kepada yang bersangkutan, Kiki sangat kaget. “Sakit kaki apa?”, tanyanya terkejut. Ternyata Kiki tidak sakit apa-apa. Kakinya sehat kok.

Setelah diingat-ingat, memang Kiki dulu pernah beberapa kali mengeluh kakinya sakit ketika mengurus suatu event di kantor yang memang merupakan tugasnya. Rupanya dia terlalu banyak berdiri dan berjalan padahal dia mengenakan sepatu hak tinggi.

Seharian dia hampir-hampir tidak pernah istirahat. Memang setiap kali sibuk mengurus event, kakinya terasa sakit. Sampai senut-senut. Tapi keesokan harinya sudah sembuh dan sakitnya timbul karena terlalu banyak berdiri dengan mengenakan sepatu hak tinggi, bukan karena penyakit. Apalagi penyakit parah! Ada-ada saja.

Jono juga pernah digosipkan tidak makan daging sama sekali. Dia alergi berat terhadap daging, sehingga hanya makan sayur saja. Malah katanya, dia sempat masuk rumah sakit karena alergi daging. Dalam acara gathering, Rima siap mengatur agar untuk Jono disiapkan makanan khusus vegetarian.

Makan sayur

Untungnya Rima menyempatkan diri bertanya kepada yang bersangkutan. Ternyata Jono bukan vegetarian. Memang minggu lalu dia pernah tidak mau makan banyak karena sedang sakit perut. Menurut dokter, perbanyak makan sayur. Jadi selama dua hari, setiap makan siang,  Jono hanya makan nasi dan sayur saja. Setelah sembuh, dia makan seperti biasa lagi. Memang dia tetap banyak makan sayur, tapi bukannya tidak makan daging. Bukannya vegetarian. Apalagi alergi!

Amit-amit!

Sekarang Rima ingin lebih berhati-hati. Karena itu, Rima berinisiatif untuk membedakan antara gosip dan informasi. Rima ingin lebihberhati-hati dalam memilah-milah dan membedakan antara gosip daninformasi. Ketika anak kedua Pak Tarmo, karyawan bagian gudang, menderita penyakit demam berdarah, maka Rima tidak menganggapnya sebagai gosip, tapi sebagai informasi yang perlu diketahui oleh karyawan lain.

Informasi ini perlu disampaikan kepada karyawan yang lain agar mereka bisa membantu. Paling tidak, mereka bisa membantu menghibur, menguatkan, mendoakan atau menengok ke rumah sakit. Malah, kemudian para karyawan berinisiatif mengumpulkan uang sumbangan sukarela bagi anak Pak Tarmo. Lumayan, bisa membantu meringankan beban Pak Tarmo.

Rima akan mencoba mengurangi gosip yang dibesar-besarkan. Mulai  sekarang, dia akan menanyakan kepada orang yang digosipkan. Tentunya untuk masalah yang berhubungan dengan pekerjaan dan tempat kerja. Bukan untuk masalah yang terlalu pribadi. Paling tidak, dia bisa mengurangi risiko negatif. Be careful! Gossip can be wrong! Be positive!

h1

Malas

January 24, 2007

Deni sedang agak malas bekerja hari ini. Rasanya masih ingin libur. Kok cepat sekali liburan berakhir. Rasanya baru sebentar libur, eh sudah harus bekerja lagi.

Tapi, kemudian Deni teringat suatu kejadian yang menggerakkan hatinya ketika belum lama berselang dia pulang kampung untuk merayakan tahun baru bersama orang tua dan saudara-saudaranya. Ketika dalam perjalanan ke kotanya, di kereta api Deni bertemu
seseorang. Orang tersebut duduk di kursi sebelah kirinya dan hanya dipisahkan oleh jalan untuk lalu lalang. Seorang pemuda. Sederhana. Biasa saja. Tidak terlalu istimewa.

Yang membuatnya istimewa adalah pemuda tersebut terus menerus dipuji-puji oleh teman-temannya. Mereka semua berlima. Teman-temannya tak henti-hentinya memujinya, menggodanya, menepuk-nepuk bahunya, dan menyalaminya berulang-ulang. Sebaliknya pemuda tersebut hanya senyum-senyum dan tertawa.

Di tengah perjalanan, setelah teman-teman pemuda tersebut tidak terlalu ribut lagi, tiba-tiba pemuda tersebut menyapa Deni. Mau pinjam koran yang dipegang Deni. Tentu saja Deni tidak keberatan untuk meminjamkan korannya. Apalagi dia sudah selesai membacanya. Tak lama kemudian pemuda tersebut mengembalikan korannya dan mereka berdua terlibat dalam pembicaraan.

Karena penasaran, Deni menanyakan mengapa pemuda tersebut disalami. Dia hanya tersenyum saja. Tapi, teman di sebelahnya langsung menengok ke arah Deni dan menjawab:”Dia karyawan terbaik tahun ini, mas! Nomor satu! Ha ha ha… Sudah tiga tahun berturut-turut lho mas. Hebat kan?” Temannya yang lain menambahkan: “Tahun ini dia naik jabatan mas. Jadi bos.”

Deni memberi salam sambil mengucapkan selamat. Sambil bercakap-cakap, Deni menanyakan kiat-kiat suksesnya dalam bekerja. Temannya menjawab: “Dia orangnya selalu ingin lebih baik. Tidak pernah berhenti belajar mas. Tidak pernah menyerah. Kalau dia tidak mengerti, dia bertanya dan belajar. Kalau sudah mengerti, dia akan berusaha melakukan yang terbaik. Kalau sudah terbaik, dia berusaha lebih baik lagi. Pokoknya tidak pernah puas. Yah, jelas dia menang lagi tahun ini.”

Teman yang lain lagi menambahkan: “Betul mas. Malah kita semua banyak belajar dari dia. Dia ini memang superman. Pokoknya hebat deh.” Deni ikut tersenyum: “Wah, mas, saya juga ingin belajar nih. Saya kok tidak bisa begitu ya? Kalau lagi down, ya kerja jadi malas juga. Tidak bisa selalu bersemangat tinggi. Apalagi kalau lagi bokek. Ha ha… Bagaimana sih caranya?”

Pemuda tersebut memandangnya, lalu berkata serius: “Saya juga sering mengalami up and down kok. Tapi, saya tidak mau down terus. Setiap kali saya malas, ya langsung saya kerja lebih giat. Kalau saya ingin istirahat, saya langsung cari apa saja yang bisa dikerjakan. Kalau saya bosan, saya langsung bikin rencana baru tentang apa saja yang
akan saya lakukan hari itu.”

Dia bercerita: “Tiga tahun yang lalu, saya ditegur oleh atasan saya. Soalnya saya lagi malas banget. Beberapa hari di kantor saya hampir tidak mengerjakan apa-apa dan hanya main game. Lalu atasan saya datang. Beliau hanya bertanya, Kalau kamu sedang malas bekerja, bagaimana jika perusahaan juga sedang malas membayar gajimu?”

Pemuda itu melanjutkan, “Setelah berkata demikian, beliau pergi. Saya jadi malu sendiri. Saya tidak ingin perusahaan malas membayar gaji saya, tentunya perusahaan juga tidak ingin saya malas bekerja. Jadi, sejak saat itu saya tidak mau menuruti rasa malas, lelah,
bosan dan lainnya.”

“Caranya?” tanya Deni.

“Kalau saya sedang merasa malas, saya langsung berdiri dan lompat-lompat di tempat. Kira-kira 20 kali lompat. Dulu saya sering ditertawakan teman-teman saya ini, tapi sekarang banyak yang mengikuti cara saya. Dengan melompat-lompat sebentar, maka peredaran darah menjadi lebih lancar, rasa malas pun hilang. Begitu juga kalau
saya mengantuk, saya langsung melompat-lompat sebentar, maka rasa mengantuk akan lenyap. Pokoknya saya melakukan kebalikan dari setiap perasaan negatif yang saya rasakan.”

“Begitu juga kalau saya sedang pusing dengan masalah pribadi saya.  Langsung saya menelepon klien yang membutuhkan bantuan saya, sehingga saya tidak memikirkan masalah saya sendiri. Kadang saya langsung menghadap atasan dan mendiskusikan masalah pekerjaan. Saya tidak mau mengasihani diri sendiri. Masalah saya tidak akan selesai dengan berpusing-pusing atau bermalas-malasan kan? Apa uang saya akan bertambah kalau saya malas bekerja? Tidak kan? Jadi, untuk apa?”

Waktu mendengar penjelasan pemuda itu, Deni hanya mengangguk-angguk. Tapi kini, ketika dia merasa sedang malas, Deni teringat akan pemuda di kereta. Segera Deni berdiri dan melompat-lompat di tempat sebanyak 20 kali. Eh benar, ternyata badannya terasa lebih segar. Dia pun mulai bekerja lagi. Ternyata dia merasa semangatnya timbul
lagi. Manjur juga yah?

Semangat Deni timbul. Untuk apa memulai tahun yang baru dengan rasa malas? Apakah rasa malas akan mengubah keadaan menjadi lebih baik? Jelas tidak! Jadi apa gunanya malas? Do something! Be active! Be successful!

Sumber: Malas oleh Lisa Nuryanti, Director Expands Consulting & Training Specialist

ayo makanya jangan pada malas2an.. :D:P

h1

Berbagi Cinta

December 19, 2006

Bila ada ajakan untuk berbagi, apa yang ada di pikiran anda? Berbagi dana, pakaian layak pakai, sembako, susu, makanan atau bentuk material lainnya. Jawaban itu boleh jadi karena pengaruh ide materilistik yang telah mengglobal. Mengukur segala sesuatunya dengan ukuran yang bersifat material dan kasat mata. Pengalaman nyata dari ayah angkat saya mungkin bisa menjadi pelajaran bahwa berbagi tidaklah mesti berbentuk material.

Setiap tahun, ayah angkat saya punya kebiasan berkeliling ke berbagai panti asuhan dan rumah anak yatim. Kunjungan biasanya dilakukan dua kali. Awal bulan Ramadhan dan akhir bulan Ramadhan. Kunjungan pertama adalah survey untuk mengetahui kebutuhan panti asuhan atau rumah yatim. Kunjungan kedua membawa bantuan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.

Ketika berkunjung ke salah satu rumah yatim, ayah angkat saya bertemu dengan seorang bocah bernama Nina.
“Nina, apa yang anakku mau sayang”begitu ayah saya membuka percakapan.
“Nina mau baju baru?, sepatu baru?, tas baru? Atau apa nak? tambah ayah saya.
“Nggak ah… ntar om marah” jawab Nina.
“nggak sayang, om tidak akan marah” ayah saya menimpali.
“Nggak ah… ntar om marah” Nina mengulang jawabannya.

Ayah saya berpikir, pasti yang diminta Nina adalah sesuatu yang mahal.
Rasa keingintahuan orang tua saya semakin menjadi. Maka dia dekati lagi Nina sambil berkata, “ayo nak katakan apa yang kamu minta sayang”
“Tapi janji ya om tidak marah” jawab Nina manja. “Om janji tidak akan marah sayang” tegas ayah saya.
“Bener om tidak akan marah” sahut Nina agak ragu. Ayah saya menganggukkan kepala pertanda bahwa ia setuju untuk tidak marah

Nina menatap tajam wajah ayah saya. Sementara ayah saya berpikir, apa gerangan yang diminta oleh Nina.
“Seberapa mahal sich yang bocah kecil ini minta sampai dia harus meyakinkan bahwa saya tidak akan marah’ pikir ayah saya. Sambil tersenyum orang tua saya mengatakan
“ayo nak, katakan, jangan takut, om tidak akan marah nak.”

Dengan terus menatap wajah ayah saya, Nina berkata; “bener ya om tidak marah.” Sekali lagi ayah saya mengganggukan kepala. Dengan wajah berharap-harap cemas, Nina mengajukan permintaanya”om, boleh nggak saya memanggil ayah” Mendengar jawaban itu, tak kuasa ayah saya membendung air matanya. Segera dia peluk Nina dan mengatakan
“tentu anakku..tentu anakku…mulai hari ini Nina boleh memanggil ayah, bukan om”
Sambil memeluk erat ayah saya, dengan terisak Nina berkata “terima kasih ayah… terima kasih ayah…

Hari itu, adalah hari yang tak akan terlupakan buat ayah saya. Dia habiskan waktu beberapa saat untuk bermain dan bercengkrama dengan Nina. Karena merasa belum memberikan sesuatu yang berbentuk material kepada Nina maka sebelum pulang, ayah saya berkata kepada Nina “anakku, sebelum lebaran nanti ayah akan datang lagi kemari bersama ibu, apa yang kamu minta nak?”
“Khan udah tadi, Nina sudah boleh memanggil ayah” sergah Nina.

“Nina masih boleh minta lagi sama ayah. Nina boleh minta sepeda, otoped atau yang lain, pasti akan ayah kasih.” Sambil memegang tangan ayah saya, Nina memohon “nanti kalau ayah datang sama ibu ke sini, saya minta ayah bawa foto bareng ayah, ibu dan kakak-kakak, boleh khan ayah?”

Tiba-tiba kaki orang tua saya lunglai, dia terduduk, bersimpuh di depan Nina. Dia peluk lagi Nina sambil bertanya; “buat apa foto itu nak?”
Tanpa ragu Nina menjawab “Nina ingin tunjukkan sama temen-temen Nina di sekolah, ini foto ayah Nina, ini ibu Nina, ini kakak-kakak Nina.” Ayah saya memeluk Nina semakin erat, seolah ia tak mau berpisah dengan seorang bocah yang menjadi guru kehidupan di hari itu.

Terima kasih Nina, walau usiamu masih belia kau telah mengajarkan kepada kami tentang makna berbagi cinta. Berbagilah cinta, karena itu lebih bermakna dibandingkan dengan sesuatu yang kasat mata. Berbagilah cinta, maka kehidupan anda akan lebih bermakna. Berbagilah cinta agar orang lain merasakan keberadaan anda di dunia.

Sumber: Berbagi Cinta oleh Jamil Azzaini. Jamil Azzaini adalah Inspirator Sukses-Mulia dan penulis buku Best Seller Kubik Leadership; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup

h1

Tidak Ada Jalan Yang Rata Untuk Sukses

November 25, 2006

Di pagi hari buta, terlihat seorang pemuda dengan bungkusan kain berisi bekal di punggungnya tengah berjalan dengan tujuan mendaki ke puncak gunung yang terkenal.

Konon kabarnya, di puncak gunung itu terdapat pemandangan indah layaknya berada di surga. Sesampai di lereng gunung, terlihat sebuah rumah kecil yang dihuni oleh seorang kakek tua.

Setelah menyapa pemilik rumah, pemuda mengutarakan maksudnya “Kek, saya ingin mendaki gunung ini. Tolong kek, tunjukkan jalan yang paling mudah untuk mencapai ke puncak gunung”.

Si kakek dengan enggan mengangkat tangan dan menunjukkan tiga jari ke hadapan pemuda.

“Ada 3 jalan menuju puncak, kamu bisa memilih sebelah kiri, tengah atau sebelah kanan?”

“Kalau saya memilih sebelah kiri?”

“Sebelah kiri melewati banyak bebatuan.” Setelah berpamitan dan mengucap terima kasih, si pemuda bergegas melanjutkan perjalanannya. Beberapa jam kemudian dengan peluh bercucuran, si pemuda terlihat kembali di depan pintu rumah si kakek.

“Kek, saya tidak sanggup melewati terjalnya batu-batuan. Jalan sebelah mana lagi yang harus aku lewati kek?”

Si kakek dengan tersenyum mengangkat lagi 3 jari tangannya menjawab, “Pilihlah sendiri, kiri, tengah atau sebelah kanan?”

“Jika aku memilih jalan sebelah kanan?”

“Sebelah kanan banyak semak berduri.” Setelah beristirahat sejenak, si pemuda berangkat kembali mendaki. Selang beberapa jam kemudian, dia kembali lagi ke rumah si kakek.

Dengan kelelahan si pemuda berkata, “Kek, aku sungguh-sungguh ingin mencapai puncak gunung. Jalan sebelah kanan dan kiri telah aku tempuh, rasanya aku tetap berputar-putar di tempat yang sama sehingga aku tidak berhasil mendaki ke tempat yang lebih tinggi dan harus kembali kemari tanpa hasil yang kuinginkan, tolong kek tunjukkan jalan lain yang rata dan lebih mudah agar aku berhasil mendaki hingga ke puncak gunung.”

Si kakek serius mendengarkan keluhan si pemuda, sambil menatap tajam dia berkata tegas “Anak muda! Jika kamu ingin sampai ke puncak gunung, tidak ada jalan yang rata dan mudah! Rintangan berupa bebatuan dan semak berduri, harus kamu lewati, bahkan kadang jalan
buntu pun harus kamu hadapi. Selama keinginanmu untuk mencapai puncak itu tetap tidak goyah, hadapi semua rintangan! Hadapi semua tantangan yang ada! Jalani langkahmu setapak demi setapak, kamu pasti akan berhasil mencapai puncak gunung itu seperti yang kamu inginkan! dan nikmatilah pemandangan yang luar biasa !!! Apakah kamu mengerti?”

Dengan takjub si pemuda mendengar semua ucapan kakek, sambil tersenyum gembira dia menjawab “Saya mengerti kek, saya mengerti! Terima kasih kek! Saya siap menghadapi selangkah demi selangkah setiap rintangan dan tantangan yang ada! Tekad saya makin mantap untuk mendaki lagi sampai mencapai puncak gunung ini.

Dengan senyum puas si kakek berkata, “Anak muda, Aku percaya kamu pasti bisa mencapai puncak gunung itu! Selamat berjuang!!!

Tidak ada jalan yang rata untuk sukses!

Sama seperti analogi Proses pencapaian mendaki gunung tadi. Untuk meraih sukses seperti yang kita inginkan, Tidak ada jalan rata! tidak ada jalan pintas! Sewaktu-waktu, rintangan, kesulitan dan kegagalan selalu datang menghadang. Kalau mental kita lemah, takut
tantangan , tidak yakin pada diri sendiri, maka apa yang kita inginkan pasti akan kandas ditengah jalan.

Hanya dengan mental dan tekad yang kuat, mempunyai komitmen untuk tetap berjuang, barulah kita bisa menapak di puncak kesuksesan.

Salam sukses luar biasa!

Sumber: Tidak Ada Jalan Yang Rata Untuk Sukses oleh Andrie Wongso

h1

Positive Thinking, Negative Thinking, & Right Thinking

November 23, 2006

“Knowing others is wisdom, knowing yourself is enlightenment. ”
~Lao Tzu

Saat memberikan in-house traning di perusahaan penghasil pulp and paper nomor dua terbesar di dunia, yang berbasis di Kerinci, Riau, baru-baru ini, ada peserta yang bertanya. “Pak, sebenarnya apa sih yang menjadi dasar untuk menentukan yang mana masuk positive thinking dan mana yang masuk negative thinking?”

Jujur, saya cukup kaget saat mendapat pertanyaan seperti ini. Bukan karena saya tidak tahu jawabannya. Namun baru kali ini saya harus berpikir secara mendalam mengenai esensi positive thinking dan negative thinking. Selama ini kita selalu yakin dan percaya bahwa positive thinking adalah pikiran yang “positif” dan “bermanfaat” bagi kita. Sedangkan negative thinking adalah pikiran yang negatif dan merugikan diri kita. Kita mengamini hal ini karena ini yang kita pelajari dari berbagai pembicara terkenal, buku-buku pengembangan diri, dan dari berbagai seminar atau workshop.

Setelah diam sejenak untuk berpikir saya lalu menjawab seperti yang saya tulis pada paragraf di atas, “Pikiran positif adalah pikiran yang bermanfaat sedangkan pikiran negatif adalah pikiran yang merugikan diri kita”.

Jawaban saya tampaknya sudah benar. Namun saya sadar bahwa jawaban yang saya berikan masih kurang lengkap. Ada dorongan dalam hati saya untuk memperdalam analisis saya terhadap jawaban yang saya berikan.

Malam hari, saat sendirian di kamar hotel, saya duduk dan memikirkan dengan mendalam pertanyaan yang diajukan peserta tadi siang, “Sebenarnya apa yang menjadi dasar untuk menentukan yang mana masuk positive thinking dan mana yang masuk negative thinking?”

Saat saya merenungkan pertanyaan ini saya langsung teringat dengan berbagai peristiwa yang telah saya alami dalam hidup saya. Saya juga telah mempraktekkan positive thinking. Teman-teman saya juga begitu. Saya teringat pada artikel yang saya tulis yang berjudul “Bahaya Berpikir Positif” yang sempat menjadi kontroversi.

Ternyata positive thinking saja tidak cukup untuk bisa meraih sukses. Positive thinking dan negative thinking masih dipengaruhi oleh persepsi dan keterbatassan pola pikir kita sendiri. Apa yang kita yakini sebagai sesuatu yang positif ternyata belum tentu positif.
Bisa jadi, kita merasa atau yakin pikiran ini positif karena berdasar pada asumsi atau paradigma berpikir yang salah, yang masih dipengaruhi oleh belief system kita, yang kita yakini sebagai hal yang benar. Jadi kita merasa telah berpikir positif atau positive
thinking. Padahal belum tentu yang kita lakukan adalah positive thinking.

Kita harus bergerak dari negative thinking ke positive thinking dan akhirnya mencapai right thinking. Mengapa right thinking? Right thinking adalah mengetahui siapa diri kita yang sesungguhnya, apa tujuan hidup kita yang tertinggi, apa misi hidup kita di dunia ini,
dan menyelaraskan diri dengan hukum abadi yang mengatur alam semesta. Right thinking juga berarti kita berpikir dengan dasar Kebenaran dan menjadi dasar dari semua proses dan level berpikir lainnya.

Right thinking berasal dari kesadaran akan kebenaran atau dari realitas yang sesungguhnya dari setiap situasi yang kita hadapi. Right thinking membuat kita mampu melihat segala sesuatu apa adanya,  tanpa terpengaruh emosi sehingga kita bersikap netral.

Mungkin sampai di sini anda merasa bingung? Ok, saya beri contoh. Misalnya ada orang yang menghina kita. Apa yang kita lakukan? Kalau negative thinking maka kita pasti akan marah besar. Semakin berkobar emosi kita maka akan semakin negatif kita jadinya. Emosi yang dipicu oleh negative thinking ibarat bensin yang disiramkan ke kobaran api.
Kita menyalahkan orang yang telah menghina kita. Pokoknya, orang ini yang salah, titik.

Kita, biasanya, akan berusaha mengatasi hal ini dengan menggunakan positive thinking. Apa yang kita lakukan? Kita berusaha berpikir positif, berusaha memaafkan, berusaha mengerti, melakukan reframing, berusaha mengendalikan emosi kita, berusaha mencari hal-hal positif dari kejadian ini.

Bagaimana dengan right thinking? Dengan right thinking kita mencari kebenaran dari apa yang kita alami. Kita harus melampaui belief system kita untuk bisa menggunakan right thinking. Tanyakan kepada diri kita, “Kebenaran apa yang terkandung dalam kejadian ini?”

Saat kita mendapat jawaban dari hati nurani kita dan kita melakukan tindakan berdasar jawaban yang kita peroleh maka pada saat itu kita telah menggunakan right thinking.

Right thinking berarti kita menyadari sepenuhnya bahwa kita bukanlah pikiran kita. Kita adalah yang menggerakkan pikiran kita. Kita mencipta realita hidup kita. Kita bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang kita alami, hal yang baik maupun yang buruk.

Saat seseorang menghina kita, apakah benar bahwa “kita” yang dihina? Coba tanyakan pada diri kita secara jujur. “Sebenarnya siapa sih yang dihina? Apakah benar saya dihina? Bagian mana dari diri saya yang merasa dihina?”

Kalau kita menggunakan right thinking maka kita sadar bahwa sebenarnya kita tidak dihina. Tidak ada seorang pun yang bisa menghina kita. Yang sebenarnya terjadi adalah kita telah memberikan makna terhadap kejadian itu, berdasar pada asumsi, persepsi,
pengalaman hidup di masa lalu, belief system, dan value kita, yang mengakibatkan munculnya emosi negatif. Eleanor Roosevelt dengan sangat bijak berkata, “No one can make you feel inferior without your consent.”

OK, anda mungkin berkata, “Lha, tapi kita kan tetap tersinggung karena dihina.” Kalau anda tetap bersikeras dengan pendapat ini, baiklah, ijinkan saya mengajukan satu pertanyaan pada anda, “Siapakah yang tersinggung atau merasa terhina? Aku? Saya? Aku yang mana? Bagian mana dari diri saya yang tersinggung? ”

Kalau kita mau jujur maka yang sebenarnya “kena” adalah perasaan kita. Pertanyaan selanjutnya adalah, “Apakah perasaan kita sama dengan diri kita? Apakah perasaan kita adalah diri kita?” Tentu tidak. Perasaan, sama dengan pikiran, akan selalu timbul dan
tenggelam, tidak abadi, dan sudah tentu bukan diri kita.

Sumber: Positive Thinking, Negative Thinking, & Right Thinking oleh Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri.